Langsung ke konten utama

One Day in Gili Trawangan


stop for a while
Ini adalah kedua kalinya aku liburan ke Lombok dan kedua kalinya juga aku liburan di masa pandemi. Selama setahun pandemi berusaha menahan diri untuk ga traveling tapi akhirnya jiwa travelingku meronta juga. Secara belum bisa liburan keluar negeri maka wisata dalam negeri pun jadi pilihan, dan pilihan jatuh ke Lombok dengan pertimbangan murah dan pengen ke Gili Trawangan aja karena dulu waktu ke Lombok mainnya ke Gili Air.

Liburan kali ini gw ditemani si Ricson, yang mana Ricson nyampe Lombok hari Jumat sementara gw nyampai hari Sabtu. Begitu landing gw langsung nyamperi Ricson ke Hotel untuk segera bergegas ke Pelabuhan Pamenang karena kita bakalan langsung nyebrang ke Gili Trawangan. Hari juga sudah siang ketika kami bergegas ke Pelabuhan Pamenang dan alhamdulillah cuaca hari itu cukup cerah jadi tidak ada kendala yang berarti karena seperti biasa liburan gw pasti penuh dengan drama.

Begitu sampai Pelabuhan saya langsung membeli tiket penyebrangan untuk 2 orang seharga Rp 15.000/orang. Kami menggunakan public boat yang  berkapasitas 40 orang. jadi kapal baru akan berangkat ketika sudah tersisi 40 orang. Waktu menunjukkan pukul 4 sore dan kebetulan kami tidak perlu menunggu lama sampai kapal terisi penuh.

public boat yang digunakan untuk menyebrang ke gili trawangan

Awal perjalanan kami begitu menikmati perjalanan dengan damai sampai tiba-tiba kapal bergerak ke kanan kiri dengan cepat karena terombang-ambing oleh ombak yang cukup kuat sore itu yang cukup menyiutkan nyali kita berdua karena takut kapal bakal karam dan seolah-olah itu hari terakhir hidup kami (lebay kali yak....). Tapi sepertinya hanya kami berdua aja yang berpikir seperti itu karena penumpang lainnya tenang-tenang aja karena mungkin ini adalah hal biasa bagi mereka tapi tidak untuk kami. begitulah selalu ada hal baru dalam setiap perjalanan. Setelah bergelut dalam kekalutan selama beberapa menit akhirnya kapal pun menepi juga di Gili Terawangan dan kami pun merasa lega dan tertawa juga setelah dipenuhi ketegangan di dalam kapal penyebrangan.

welcome to Gili Trawangan

Karena letak hotel yang kami booking lumayan jauh sempet bingung juga gimana kesananya sempet email hotel buat jemput tapi dipikir-pikir gimana mau ngejemputnya orang kagak ada mobil juga di sana...hahaha....Setelah menghubungi hotel ga bisa akhirnya kami memutuskan untuk naik Cidomo dengan membayar 100rb.

welcome to Jambu Luwuk Oceano

Suasana di Gili Terawangan benar-benar sepi, Hotel Jambu Luwuk yang kapasitasnya 90 selama pandemi hanya terisi sekitar 20an kamar saja. Dan selama di Gili Terawangan kami tidak kemana-mana karena Hotelnya benar-benar nyaman dilengkapi dengan Hammock dan gasebo di depan kamar benar-benar membuat kami mager. Awalnya kami hanya booking buat semalam aja tapi karena suasananya enak jadi kami extend jadi 2 malam.

enak beud mager di atas hammock

Hari pertama di hotel kami beneran cuma mager di Hotel aja karena nyampe Hotel juga sudah sore. Paling jauh nongkrong di depan hotel sambil nungguin sunset dan berenang. Yang penting bisa liburan aja aku udah bahagia. Karena buat aku itu liburan ga melulu harus explore tempat yang aku datengin yang penting aku bisa escape from my daily life dan nemu suasana baru thats more than enough. Untungnya juga Ricson sih ga rewel jadi dia fine-fine aja dengan kita cuma berdiam diri di hotel.

sunset time

kolam renang Jambu Luwuk
Hari kedua akhirnya kami memutuskan untuk sewa sepeda buat keliling pulau. Harga sewa sepeda per orang 30rb/hari/orang. Dari hotel ke tempat sewa kami jalan kaki melewati jalan kampung dengan pemandangannya sangat menyejukkan mata karena dikelilingi pepohonan tinggi kek pohon kelapa apalagi suasana masih pagi jadi beneran masih sepi.

cakep yak pohon kelapanya...
Karena Gili Trawangan ini kecil jadi sebenarnya juga ga butuh waktu lama buat keliling-keling. Kami cuma keluar buat makan siang di dekat pelabuhan kemudian balik hotel dan sorenya baru keluar lagi buat menikmati sunset di The Exile sambil minum Beer. Saat itu suasana di Gili Trawangan benar-benar sepi tidak seperti ketika pandemi belum melanda bahkan banyak Hotel-Hotel yang tutup.

Beer and sunset

Kami menikmati sunset sampai jam 7an dan baru memutuskan untuk balik ke hotel. Tetapi di perjalanan pulang kami lewat Hotel Aston dan ternyata di sini ada pemutaran film gratis jadilah kami mampir nonton film dulu. So kalau kalian di Gili Trawangan dan butuh hiburan bisa banget kalau malem numpang nonton film di Hotel Aston karena free biarpun kalian ga nginep di situ.

berasa nonton layar tancep

Kelar nonton film kita balik ke Hotel buat istirahat dan siap-siap cek out besok paginya. 

Habis cek out kami sekalian ngembaliin sepeda karena tempat sewa sepedanya dekat dengan pelabuhan. Seperti biasa tiket kapal balik ke Pamenang harganya 15rb/orang dan pastinya menunggu 40 orang dulu baru berangkat. Jadi kalau waktu kalian masih lama bisa ngopi cantik di Thyme Coffee yang ada di dekat pelabuhan Gili. Kebetulan waktu itu gw ke pelabuhan dulu buat beli tiket sambil nunggu ricson gw pun menyempatkan ngopi di sini.

Thyme Coffee
Perjalanan balik dari sini bukan tanpa drama pastinya karena pas baru jalan beberapa menit tiba-tiba hujan datang disertai angin sehingga penutup bagian atas kapal tersingkap dan beberapa pelampung berjatuhan sehingga kapal harus putar balik buat ngambilin pelampung dan setelah itu baru melanjutkan penyebrangan ke Pelabuhan Pamenang.

Sehabis dari Gili Trawangan Aku masih extend 2 hari buat stay di Lombok while Ricson balik duluan ke Surabaya. next sih kami berharap bisa traveling bareng lagi yang rencananya pengen ke Toraja yang kebetulan ada saudaranya Ricson di sana...so we'll wee you on the next trip ya...






Komentar

Postingan populer dari blog ini

'Sate Kanak' Kreasi Baru Sate Ratu Juaranya Ngulik Rasa

Sate Ratu juaranya Sate di dunia Kalau Sate Ratu pasti semuanya udah tau kan ya, tapi kalau Sate Kanak sepertinya terdengar asing di telinga bukan ? wajar aja sih asing di telinga karena Sate Kanak ini baru saja dilahirkan oleh Sate Ratu gegara ikutan kompetisi  'Ngulik Rasa' yang diadakan oleh Unilever Food Solutions bulan November lalu yang mana kompetisi ini bertujuan untuk membangkitkan kreativitas pebisnis kuliner Indonesia dalam menciptakan kreasi fusion dari makanan khas Indonesia yang tengah digemari milenial Indonesia. Kompetisi ini diikuti lebih dari 2900 pebisnis kuliner dari seluruh Indonesia berdasarkan tiga kategori yaitu Sate, Soto dan Nasi Goreng. Dan kebetulan Sate Ratu mendapatkan juara untuk kategori Sate dengan kreasi Sate Kanaknya. Sate Kanak yang menjadi juara ngulik rasa ini merupakan hasil inovasi Pak Budi selaku owner dari Sate Ratu. Seperti kita ketahui Sate Ratu mempunyai menu andalan Sate Merah yang terkenal dengan tastenya yang pedas. Ka

Mudahnya Perpanjang SIM di SIM Corner Jogja City Mall

  tempat pengambilan formulir dan pembayaran SIM   Hai gaes aku mau share sedikit soal pengalamanku memperpanjang SIM di SIM Corner JCM nih. Setelah beberapa hari sebelumnya gagal perpanjang karena salah fotokopi SIM yang mau diperpanjang padahal udah mau ambil formulir jadinya gagal deh karena kalau harus keluar Mall buat fotokopi lagi waktunya ga bakalan kekejar karena pendaftaran bakalan tutup 15 menit lagi atau jam 11 tepatnya. Hari berikutnya juga sempat nyari info soal SIM keliling tetapi dasarnya ga rejeki juga eh pas dapat info ada SIM keliling di Polsek Depok pas tiba di TKP jam 10.30 tapi juga pas bubaran jadi ya udah deh akhirnya memutuskan buat balik ke JCM lagi besoknya. Oiya sebelum ke JCM siapkan fotokopi KTP dan SIM yang mau diperpanjang sebanyak masing-masing 2 lembar ya gaes biar kalian ga buang waktu buat bolak balik keluar masuk Mall cuma buat fotokopi terlebih kalau waktunya mepet. Karena di Mall ga ada tempat fotokopi jadi pastikan sebelum masuk kalian sudah bawa

Menikmati Lezatnya Daging Asap Di Wanarasa Jogja

  kira-kira gimana ya rasanya daging asapnya Wanarasa?   Weekend enaknya ngapain ya menurut kalian ? Kalau aku sih suka banget hunting tempat makan atau cafe baru dan kebetulan beberapa waktu lalu aku berkesempatan untuk nyobain tempat makan baru yang agak blusuk tapi masih di sekitaran Ngaglik namanya Wanarasa .  Btw udah ada yang pernah kesini belum ? atau jangan-jangan baru tau ya kalau ada tempat makan bernama Wanarasa ini. Boleh dibilang tempat makan ini baru karena memang baru berdiri sejak akhir Oktober lalu tepatnya tanggal 29 Oktober 2020. Awal mula didirikan tempat makan ini berasal dari hobi para owner yang merupakan pencinta steik sehingga terpilihlah daging asap sebagai sajian utamanya. Tempat ini dinamai Wanarasa karena memang kebetulan beberapa ownernya dulunya kuliah di jurusan kehutanan yang mana Wanarasa terdiri dari kata Wana yang berarti hutan. Selain karena para ownernya lulusan fakultas kehutanan tempatnya sendiri juga dikelilingi pepohonan jati sehingga suasanan